Showing posts with label News. Show all posts
Showing posts with label News. Show all posts

Wednesday, 14 December 2011

Research In Motion (RIM) dan Penjajahan Blackberry (BB) di Indonesia


 VS 

Berita dan berbagai macam argumen gonjang-ganjing mengenai "nakal-nya" RIM (Research in Motion) terhadap rakyat dan pemerintah NKRI pada berbagai media cetak dan elektronik nasional dan luar negeri sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, bahkan bisa dibilang sudah mendekati basi level dewa.

Saya pertama kali mendengar berita mengenai desakan pemerintah terhadap RIM untuk membangun fasilitas service center dan server di dalam wilayah Indonesia sejak masih ngantor di kantor yang dulu, sekitar pertengahan tahun 2010. Tapi lucunya kondisi ini tetap saja berlangsung hingga akhir tahun 2011 ini.

Lama-lama tangan saya gatel juga untuk menulis opini terkait dengan kondisi yang sudah lebih dari 2 tahun berjalan ini namun hanya membuahkan solusi dibangunnya fasilitas service center RIM di Indonesia ini.

Friday, 11 November 2011

Merah Putih Pahlawan, Dahulu, Sekarang, dan Esok


Setiap jiwa yang bermukim dan tumbuh besar di sebuah wilayah kepulauan Nusantara di bagian barat pasifik dalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) insya Allah tahu atau bahkan beberapa di antaranya mungkin paham betul dengan apa yang terjadi pada 10 Nopember tahun 1945 di Surabaya.

Pic 1. Merah Putih Pahlawan, Dahulu, Sekarang, dan Esok (click to enlarge)

Kemarin tepatnya 66 tahun yang lalu, di berbagai sudut kota Surabaya dilancarkanlah serangan bertubi-tubi oleh tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ke kubu-kubu pertahanan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang berkedudukan di Surabaya. Darah dan peluh bersatu padu mengalir diantara semangat dan niat suci para pejuang TKR dan berbagai laskar untuk mempertahankan kedaulatan negara yang dicintainya, Republik Indonesia.

Sunday, 30 October 2011

Dan NC-295 pun Menjadi CN-295


Belum ada 24 jam sejak artikel mengenai lisensi NC-295 yang saya tulis sebelumnya saya post di blog ini. Pagi ini saya menemukan bahwa pesawat yang "dicoba" oleh Presiden Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono ketika penandatanganan MoU lisensi C-295 pada tanggal 26 Oktober 2011 telah berganti kode menjadi CN-295. Sejatinya pesawat tersebut adalah sama, yaitu pesawat berjenis C-295 dengan tail number EC-296.

Pic 1. Pesawat C-295 dengan tail number EC-296 mendarat pertama kali
di Lanud Halim Perdana Kusuma (click to enlarge)

Masih terkait dengan berubahnya kode pada body pesawat, ternyata tipe pesawat pada penandatanganan kerjasama lisensi yang didengungkan pada khalayak ramai pun berbeda dengan yang saya perkirakan sebelumnya. Tipe pesawat yang didengungkan untuk dilisensi adalah C-295 dan nama lokalnya adalah CN-295, berbeda dengan penamaan pesawat hasil lisensi selama ini yang hendaknya adalah NC-295.

Saturday, 29 October 2011

NC-295, Demi Masa Depan N-219, PTDI, dan Industri Dirgantara Indonesia


Tulisan ini dibuat sudah beberapa hari sejak berita pengujian pesawat angkut sedang tipe C-295 dengan tail number EC-296 oleh TNI-AU dan PTDI didengungkan di berbagai media cetak dan elektronik. Bagi saya pribadi berita ini terasa bagaikan air mineral yang sungguh sejuk untuk kita nikmati ketika berbuka puasa. Setelah berbagai berita miring mengenai PTDI akhirnya muncul juga berita yang insya Allah akan membawa angin segar untuk kemajuan PTDI dan industri dirgantara Indonesia.

Pic 1. Pesawat C-295 dengan tail number EC-296 tiba pertama kali

Pesawat dengan tail number EC-296 ini sejatinya bukanlah hasil produksi PTDI, pesawat ini berkunjung ke wilayah udara Indonesia demi membawa misi suci membuka kerjasama baru antara PTDI, TNI-AU, serta Airbus Military yang merupakan anak perusahaan EADS, dedengkot industri militer di wilayah Uni Eropa.

EC-296, pesawat yang kini ber-cat abu-abu khas TNI-AU dengan name marking "Ciudad de Sevilla" yang berarti "Kota Sevilla" dalam bahasa Indonesia ini kini memiliki tanda bendera merah putih di bagian bawah kokpitnya serta marking NC-295 di fuselage depannya. EC-296 merupakan prototype kedua pesawat tipe C-295 buatan CASA (sekarang bagian dari Airbus Military) dan terbang perdana pada tahun 1998. Sudah jelas bahwa EC-296 bukan pesawat yang baru kemarin sore keluar dari hanggar tempat ia dibuat.

Sunday, 18 September 2011

Terbang dan Peduli Dengan Emergency Exit


Kompasiana merupakan wahana microblogging yang tak henti-hentinya menjadi tempat bagi saya untuk menemukan dan meng-explore berbagai tulisan bermutu dan menarik. Hari ini sebuah tulisan yang berjudul "18 Calon Pahlawan di Penerbangan Lion Semalam" sedikit mengusik hati saya untuk berbagi dan sedikit menulis review.

Emergency exit doors merupakan salah satu bagian paling krusial dalam proses penyelamatan penumpang ketika terjadi masalah pendaratan pada suatu pesawat terbang. Namun saya yakin, tidak cukup banyak orang yang cukup memperhatikan dan peduli dengan peran yang harus diembannya ketika ia mendapatkan posisi tempat duduk di emergency exit rows.

Saya pribadi sangat menyukai posisi emergency exit rows, apalagi pada seat A atau F yang paling dekat window. Terlepas dari fasilitas ruang yang lebih lapang dan lebih lega untuk mengambil foto kondisi di luar pesawat, emergency exit rows secara moral juga membuat saya untuk selalu ingat bahwa perjalanan udara merupakan moda transportasi dengan resiko error yang cukup frightening.

Sedikit merevisi tulisan kang Eddy Roesdiono di kompasiana, Boeing B737-900ER memiliki total 10 emergency exit doors dan 6 di antaranya memang berada di bagian tengah pesawat, hanya saja pada row 31 terdapat 4 seat yang ditambah peran dari 2 penumpang row 32 sehingga terdapat total 18 penumpang yang bertanggung jawab atas penggunaan 6 emergency exit doors tersebut. Selain itu seat pada Boeing B737-900ER Lion Air juga hanya memiliki 2 macam konfigurasi yaitu 213 penumpang all economy class atau 195 economy ditambah 10 business class. Apabila ditambah dengan kru pesawat, maka angka tersebut ditambah 2 orang kru kokpit dan 6 orang kru kabin.

Pic 1. Space kosong di sebelah kiri seat 31A tepat di depan seat 32A; Foto saya ambil di dalam kabin PK-LGW pada penerbangan rute BTH-SUB sekitar awal 2011 (click to enlarge)

Semakin besar ukuran suatu pesawat komersial maka semakin banyak emergency exit doors yang harus dia miliki, hal ini sesuai dengan aturan standar FAA yang di Indonesia diadopsi oleh DGCA. Standar yang berlaku adalah berapapun jumlah dan bagaimanapun desain emergency exit doors, poin utama yang harus mampu diperoleh adalah dapat mengeluarkan seluruh penumpang, kru kokpit, serta kru kabin dalam waktu paling lama 90 detik bahkan dengan kondisi separuh jumlah pintu mengalami blokade sekalipun.

Pic 2. Tampak 3 emergency exit doors dan 2 emergency exit windows pada sisi kanan kabin Boeing B737-900ER PK-LGM; Jumlah yang sama juga terdapat pada sisi kiri pesawat (click to enlarge)

Tuesday, 13 September 2011

Karakter Ayah Ideal [Ayah Juara]


Satu lagi artikel inspiratif dari Kompasiana, saya yakin dapat menginspirasi setiap pria yang sudah mulai merencanakan atau mungkin sedang menjalankan proses hidupnya sebagai seorang ayah dan  sekaligus kepala keluarga yang tentunya membaca dan meresapi artikel ini.

"Keluarga juara" lahir dari dukungan "ayah juara" yang senantiasa didukung oleh ibu dan putra-putri yang saling sayang dan mendukung satu dengan lainnya

Menjadi suami belum tentu menjadikan seorang pria menjadi ayah, dan menjadi seorang ayah belum tentu menjadikan seorang pria menjadi panutan yang dapat menjadikan keluarganya menjadi sakinah, mawaddah, warahmah serta kelak meraih surga. Karena itulah tiap pria perlu dan harus senantiasa belajar dan mengintrospeksi diri demi memberikan yang terbaik untuk keluarga yang dipimpinnya, mari kita bekerja keras menjadi pria-pria yang mampu mewujudkannya dan menjadi "ayah juara" untuk keluarga dan dunia di sekitar kita.

Quoted article :

Sudahkan Anda Menjadi Ayah?
Jika anda seorang lelaki, kemudian menikah dan memiliki anak, sejak saat itu anda adalah seorang ayah. Anda akan disebut Bapak, Ayah, Daddy, Papa, Papi, Abi, Abah atau sebutan  lain semacam itu oleh anak anda. Status anda secara resmi dan formal adalah seorang suami dan sekaligus seorang ayah. Namun pertanyaannya adalah, apakah anda sudah “menjadi” ayah?

“Menjadi” adalah sebuah proses, namun juga hasil. Proses menjadi ayah, dan hasil akhirnya : anda menjadi ayah. Saat berbicara proses, untuk menjadi ayah tentu saja memerlukan  sejumlah langkah dan usaha nyata. Langkah yang dimaksud bukan hanya menikah dan memiliki anak, namun lebih penting lagi adalah proses untuk memenuhi karakteristik sebagai ayah.  Banyak kalangan masyarakat kurang memiliki kesadaran untuk berusaha memiliki karakter sebagai ayah. Mereka menjadi ayah semata-mata karena proses biologis, bahwa kenyataannya  mereka telah memiliki anak.

Menjadi ayah semestinya diawali dengan menyiapkan diri untuk memiliki karakter seorang ayah ideal, atau dalam istilah lain adalah “ayah juara”. Paling tidak ada tujuh karakteristik yang diperlukan untuk menjadi ayah ideal, yaitu kepemimpinan, keteladanan, kehangatan, optimisme, kecerdasan, kekuatan dan kelembutan.

Monday, 5 September 2011

Catatan dari Tragedi Car Accident Saipul Jamil


Tulisan utama di bawah ini disadur dari media microblogging kompasiana dan merupakan hasil karya kang Karman Mustamin, seorang pemerhati di bidang otomotif yang juga merupakan founder Smart Driving Institute (SDI).

Postingan ini bertujuan untuk mengingatkan kita semua untuk mengenal lebih dekat serta memahami peralatan transportasi yang kita miliki. Pemahaman akan spesifikasi serta karakter perlatan yang kita miliki akan membawa kita pada penggunaan peralatan yang optimal serta aman, begitu juga pada peralatan transportasi, baik itu motor, mobil, atau moda yang lainnya.

Mengutip ungkapan kang  Karman MustaminBe smart before you drive, lebih baik mencegah daripada kita menyesal di kemudian hari karena kemalasan kita untuk belajar dan bertindak preventif, wish us all a safe trip.

Pic 1. Mobil Toyota Avanza tipe G milik Saipul Jamil setelah mengalami kecelakaan

Mudik lebaran, harus diakui menjadi fenomena tersendiri bagi Indonesia. Hampir dipastikan, tradisi mudik lebaran ini tak akan ditemui di negara lain di dunia. Namun seiring berlangsungnya tradisi ini dari tahun ke tahun, terselip pula tragedi yang sesungguhnya sangat tragis. Arus mudik, ternyata membawa dampak berupa jatuhnya korban tewas yang sia-sia akibat kecelakaan lalu lintas.

Menurut data sementara dari Posko Angkutan Lebaran Terpadu Kementerian Perhubungan hingga H+1 yang dirilis 1 September 2011, tercatat terjadi 2.773 kecelakaan lalu lintas selama mudik lebaran. Sejumlah kecelakaan lalu lintas ini mengakibatkan 433 orang korban meninggal dunia dan 729 orang luka berat. Ini berarti pula, dari tahun ke tahun jumlah korban yang bergelimpangan di jalan terus meningkat dan nyaris tak mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Kecuali, sekadar menjadi konsumsi berita media massa.


Tuesday, 30 August 2011

Trip Report 2, Mudik Estafet By Bus


KA Sembrani yang kami tumpangi tiba di Stasiun Pasar Turi Surabaya cukup tepat waktu, tanggal 26 Agustus 2011 sekitar pukul 07.30 WIB. Namun sayang sekali tidak terlihat penampakan penyambutan dari panitia Mudik Akbar Bareng Telkomsel 2011, padahal sebelumnya panitia di kereta telah menginformasikan bahwa bakal ada foto bareng peserta dan panitia di stasiun tujuan. Karena para peserta Mudik Akbar Bareng Telkomsel 2011 diumbar begitu saja di Stasiun Pasar Turi Surabaya, tidak lama kemudian mereka pada ngacir pulang sendiri-sendiri, termasuk saya.

Secara umum suasana Stasiun Pasar Turi Surabaya cukup crowded, terlihat dari suasana ruang tunggu penumpang yang cukup ramai, banyaknya penumpang yang turun dari kereta, serta ditambah dengan banyaknya mobil pribadi yang diparkir di lahan parkir di halaman stasiun. Namun sayang sekali keramaian ini tidak sempat saya abadikan, wong sudah kepikiran rumah terus.

Mudik estafet by bus tahap 1 dimulai dengan berjalan kaki ke Pusat Grosir Surabaya (PGS) yang berjarak sekitar 300 meter dari Stasiun Pasar Turi Surabaya. Setelah menunggu kurang lebih 5 menit sampailah bus kota yang kami tunggu untuk mengantarkan kami ke Terminal Bus Bungurasih. Meskipun cukup berdesakan, moda transportasi ini mau tidak mau harus dipilih karena hanya dengan bus kota ini kami bisa mencapai Terminal Bus Bungurasih dalam waktu cepat dan dengan biaya super irit tentunya.

Pic 1. Suasana koridor arrival bus kota di Terminal Bus Bungurasih 26 Agustus 2011 (click to enlarge)

Thursday, 25 August 2011

Trip Report 1, Mudik Akbar Bareng Telkomsel [KA Sembrani Gambir-Ps.Turi]


Mudik Akbar Bareng Telkomsel 2011 merupakan bagian dari program Telkomsel Siaga 2011 yang pada tahun ini mengalokasikan kuota sebanyak 5000 orang pelanggan pada berbagai rute mudik. Kebetulan rute mudik kereta api tahun ini seluruhnya dialokasikan pada rute jalur utara dan selatan antara Jakarta hingga Surabaya. Dan lebih kebetulan lagi karena tahun ini saya cukup beruntung untuk bisa menjadi bagian di dalamnya, sebagai peserta mudik tentunya.

Berikut reportase singkat perjalanan KA Sembrani tanggal 25 Agustus 2011 yang merupakan bagian dari Mudik Akbar Bareng Telkomsel 2011, khususnya Gerbong 3, tempat dimana saya menulis reportase ini dan kurang lebih 10 jam "berjalan" ke Surabaya. Pada perjalanan kali ini kebetulan saya ditemani rekan se-angkatan, Fajar namanya, kalau ada yang berminat silakan aja hubungi beliaunya.

Pic 1. Modal ngikut mudik, voucher mudik dari Telkomsel (click to enlarge)

Thursday, 18 August 2011

PT DI, Jatuh Bangun Bangkitkan Industri Pesawat Indonesia




Pic 1. The 1st N250-50 Gatotkaca, PK-XNG 


Metrotvnews.com, Bandung: Banyak yang menilai Indonesia belum siap memiliki pabrik pesawat yang membutuhkan modal besar dan teknologi tingkat tinggi. Banyak pula yang menganggap pabrik pesawat itu hanya sekedar pemborosan. Meski demikian, PT Dirgantara Indonesia (DI) terus berjuang membangkitkan pabrik pesawat sebagai citra eksklusif bangsa.


Friday, 12 August 2011

Passport, Cambuk Keras dari Rhenald Kasali



Tulisan ini sebenarnya bukan diperoleh dari sumber media yg tertulis di bawah, hanya saja link sumber berita ini menuliskan sumber tersebut. Apalah artinya mediator berita, toh yang terpenting adalah isi artikel berita tersebut. Terlepas dari itu, bagi saya tulisan ini ternyata cukup detail membuktikan bahwa masih banyak diantara kita yang masih puas menjadi kura-kura di dalam tempurungnya masing-masing, itu juga yang menjadi salah satu alasan mengapa tulisan ini saya post di sini.


Setiap orang tahu bahwa perubahan selalu memerlukan proses dan modal, salah satu contoh sederhananya ya proses mendapatkan dan memanfaatkan passport itu. Sering kali kita lupa bahwa Indonesia masih tertinggal jauh dalam banyak hal dari negeri-negeri lain di luar sana. Tetapi terkadang kita sebel juga menyaksikan perilaku bapak-ibu di gedung DPR sana jalan-jalan mengatasnamakan benchmarking atau studi banding ke luar negeri.

Tulisan ini sebenarnya bukan dibuat untuk menghalalkan "jalan-jalan" bapak-ibu tersebut, tulisan ini dibuat justru untuk mencambuk kita agar mampu berusaha dan melakukan benchmarking tersebut dengan modal kita sendiri, tanpa menjadi beban siapapun, termasuk rakyat Indonesia.


Semoga dengan membaca dan meresapi tulisan ini kita sudi melepaskan tempurung kita dan berlari lebih cepat untuk mengejar ketertinggalan kita dan bangsa kita. Perubahan hanya akan terjadi apabila ada yang memulai, dan perubahan akan membawa dampak signifikan apabila banyak dari kita mau dan mampu membuktikan perubahan tersebut. Lebih baik kita menjadi manusia yang mampu menyelesaikan suatu hal yang sulit, daripada kita harus menyerah pada perasaan sulit dan berhenti untuk melakukan perubahan.

"Semakin anda mngerti dunia di luar sana maka anda akan semakin mengerti seberapa jauh kita tertinggal, semoga anda juga semakin mengerti seberapa banyak yang bisa kita lakukan utk merubah itu......."

Passport - Jawapos 8 Agustus 2011

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa
berapa orang yang sudah memiliki passport. Tidak mengherankan,
ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya
berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam.
Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini
berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Sunday, 7 August 2011

N-219, Nafas Kebangkitan Industri Dirgantara Indonesia


 Pic 1. Mock up N-219

N-219, kelahiran harapan baru industri dirgantara Indonesia ini dimulai pada tahun 2006 ketika PTDI (PT. Dirgantara Indonesia) mulai menyadari bahwa terdapat potensi yang cukup besar dalam pasar penerbangan perintis di Indonesia. Pada sebuah negara kepulauan penerbangan perintis merupakan suatu mode transportasi yang sangat krusial dalam mendukung perekonomian, terutama pada wilayah-wilayah terpencil yang hanya dapat dijangkau melalui mode penerbangan dengan landasan pacu pendek. Potensi pasar ini telah lama dikelola, namun sepertinya belum terlalu baik seperti penerbangan terjadwal antar kota besar yang umumnya dilayani oleh maskapai besar layaknya GarudaLionBataviaSriwijaya, dan beberapa maskapai lainnya. Meskipun salah satu maskapai BUMN (Merpati) diplot untuk mengelola penerbangan perintis, nampaknya mereka juga masih kewalahan dengan pasar tersebut, terlihat dengan berkembang pesatnya beberapa maskapai perintis seperti Susi Air atau Aviastar.

Pic 2. Mock up N-219 di hadapan petinggi PTDI

Sunday, 22 March 2009

Awal yg baru . . .


Dua Siswi SMAN 1 Sidoarjo Menang di Indonesian Science Project Olympiad 2009

Selai Buah Mangrove yang Bawa Mereka ke Turki

Dua siswi SMAN I Sidoarjo mampu ''menyulap'' buah tanaman mangrove menjadi selai roti yang enak sekaligus mengandung anti-bakteri. Berkat prestasinya itu, mereka dinobatkan sebagai pemenang bidang biologi Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) 2009 dan berhak mewakili Indonesia dalam even internasional di Turki, Mei mendatang.

---

Dua siswi berprestasi itu adalah Nofi Nurina Ramadhani,18, dan Karlinda Sari, 19. Mereka mengikuti ajang ISPO di Jakarta, 13 Maret lalu. Olimpiade yang diselenggarakan Depdiknas Pusat itu diikuti 150 tim dari berbagai penjuru tanah air. Menurut Nofi, sukses meraih medali emas itu di luar dugaan sama sekali.

''Soalnya, karya peserta lain bagus-bagus. Tapi, entahlah, juri memilih karya kami sebagai pemenang,'' ujarnya.

Karya Nofi dan Karlinda semula tidak dimaksudkan untuk lomba. Karya penelitian mereka yang berjudul Magic Alba Jam sebenarnya merupakan karya penelitian reguler yang wajib dikerjakan siswa. Penelitian itu boleh dikerjakan sendiri atau berdua. Nofi dan Karlinda memutuskan untuk mengerjakan bersama.

Setelah melakukan studi referensi, kedua siswi kelas XII IPA itu lalu sepakat untuk menggarap buah mangrove sebagai objek penelitian. Hanya saja, tidak semua buah mangrove bisa diolah menjadi selai. Dalam penelitian ini mereka menggunakan buah mangrove jenis sonneratia albabogem (bentuk dan warnanya mirip mangga, hanya ukurannya lebih kecil, Red).