Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Tuesday, 31 January 2012

Semangat Dirgantara Seorang BJ Habibie


Kisah ini pertama kali saya baca sekitar pertengahan Januari yang lalu melalui sebuah milis yang menjadi tempat berkumpul dan berdiskusinya para pemerhati dan pencinta dunia dirgantara. Subhanallah, di usia yang sudah menginjak kepala tujuh pak Habibie masih saja bersemangat dan menaruh perhatian besar pada dunia dirgantara Indonesia.

Banyak sekali pelajaran dan pesan moral yang dapat kita petik dari rangkaian kata-kata Capt. Novianto Herupratomo di bawah ini. Mendarmabaktikan hidup untuk berkarya dan bermanfaat untuk umat manusia yang lainnya serta selalu mencintai istri dan keluarga menjadikan hidup seorang BJ Habibie menjadi jauh lebih berwarna dan penuh semangat. Tidak ada salahnya apabila kita mampu belajar dan termotivasi oleh semangat dirgantara seorang BJ Habibie yang tertuang pada tulisan berikut ini.

Quoted Article :
12 Januari 2012

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.


Video 1. Iklan Garuda Indonesia Experience 2011 (uploaded on youtube)

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Video 2. Penerbangan perdana N-250 pada 10 November 1995 (uploaded on youtube)

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Wednesday, 9 November 2011

Berat Badan Ideal untuk Janin Sehat [Ideal Body Weight for Healthy Fetal]


Sudah beberapa kali termasuk kemarin saya tidak bisa menemani istri tercinta dan si kecil menjalani periodic check-up ke dokter kandungan. Jikalau-pun sekarang jarak kami tidak terpisah ribuan kilometer insya Allah saya akan selalu menemani kemanapun dan dimanapun diperlukan. Ayah mana yang tidak ingin selalu dekat dengan buah hatinya, suami mana yang tidak ingin selalu dekat dengan separuh hatinya.


Alhamdulillah, kabar bahwa si kecil sudah berkembang cukup pesat dengan perkiraan berat badan berkisar pada angka 1.6 kg tidak hentinya membuat hati ini berbunga. Berbagai macam asupan makanan bergizi dan suplemen gizi yang cukup masif diberikan pada bunda-nya sepertinya memberikan hasil yang positif. Kemarin malam tersiar kabar bahwa dokter memberikan testimoni yang cukup baik terkait dengan kondisi kesehatan si kecil di dalam perut bunda-nya termasuk betapa aktifnya si kecil di dalam sana, Subhanallah.

Saturday, 5 November 2011

Antara Aku, Kambing, Sapi, dan Idul Adha


(click to enlarge)

Tulisan ini dibuat dengan diiringi alunan takbir yang berkumandang dengan indahnya di Musholla sebelah dan juga di laptop tercinta. Sudah dua kali lebaran kurban saya lalui di perantauan. Tahun kemarin dilalui dengan sholat Ied bersama kawan sekantor di pulau Batam, dan tahun ini entah bakal dilalui dengan siapa, namun lokasinya sudah jelas yaitu di wilayah Tanjung Karang, Bandar Lampung. Sayang sekali, hingga saat ini belum sekalipun sempat merayakan Idul Adha dengan istri tercinta dan si kecil.

Tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini malam takbiran dilalui dengan kontak senjata dengan keluarga yang berada sekitar 1000km dari tempat saya berada. Senjata yang saya maksud di sini adalah sepasang telepon selular merk Sony Ericsson yang entah bagaimana caranya sudah menjadi semacam communication mark di dalam keluarga saya. Bayangkan saja, saya, istri, orang tua, bahkan mertua pun memakai telepon selular dengan vendor yang sama, meskipun telepon selular sekunder pakai vendor lain. Selain itu juga masih ada modem yang setia me-relai jaringan internet untuk berkomunikasi dengan istri di Jawa. Bukan bermaksud promosi lho ya.

Wednesday, 19 October 2011

Renungan Keluarga, "Aku Terpaksa Menikahinya"


Setiap orang pasti memiliki pandangannya masing-masing mengenai keluarga yang ideal. Setiap orang juga berhak untuk melakukan apapun, khususnya dalam memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Kadang kala kita lupa bahwa kita memiliki anugerah yang sungguh luar biasa, bahkan pada beberapa kasus tidak jarang kita menyiakan anugerah tersebut.


Tulisan berikut ini bukanlah kisah atau hasil karya saya, kisah ini saya peroleh dari postingan seseorang di forum kaskus. Semoga apa yang tersirat dalam tulisan ini menyalurkan pahala bagi penulisnya dan memberikan ilmu yang bermanfaat untuk kita semua. Semoga dengan membaca tulisan berikut ini kita tercambuk untuk berusaha lebih keras dalam memberikan yang terbaik untuk keluarga kita

Quoted article:
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Tuesday, 13 September 2011

Renungan Tentang AYAH . . .


Ketika Beliau Tua...
Ketika beliau tua, bukanlah lagi beliau yang dulu,
Maklumilah beliau, bersabarlah dalam menghadapinya.


Ketika beliau menumpahkan kuah sayuran di bajunya,
ketika beliau tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu,
Ingatlah saat-saat bagaimana beliau mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.


Ketika beliau dengan pikunnya mengulang terus-menerus ucapan yang membosankanmu,
bersabarlah mendengar beliau, jangan memotong ucapan beliau,
Di masa kecilmu, beliau harus mengulang dan mengulang terus sebuah
cerita yang telah beliau ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi


Ketika beliau membutuhkanmu untuk memandikannya,
janganlah menyalahkannya.
Ingatkah dimasa kecilmu,
bagaimana beliau dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?


Ketika beliau kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
janganlah menertawainya.
Renungkanlah bagaimana beliau dengan sabarnya menjawab setiap "mengapa"
yang engkau ajukan disaat itu.


Ketika kedua kakinya terlalu lemah untuk berjalan,
ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahnya,
Bagaikan dimasa kecilmu beliau menuntunmu dan melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.


Ketika beliau melupakan topik pembicaraan kita,
berikanlah sedikit waktu pada beliau untuk mengingatnya.
Sebenarnya topik pembicaraan bukanlah hal yang penting baginya,
asalkan engkau berada disisinya untuk mendengarkannya, beliau telah bahagia.


Ketika engkau melihat dirinya menua, janganlah bersedih;
Maklumilah dirinya, dukunglah beliau, bagaikan beliau terhadapmu
ketika engkau mulai belajar tentang kehidupan


Dulu beliau menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini,
kini temanilah beliau hingga akhir jaman hidupnya.
Berilah beliau cinta kasih dan kesabaranmu,
beliau akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur.
Di dalam senyumnya itu, tertanam kasih yang tak terhingga padamu.


sumber : www.kaskus.us (dengan berbagai perubahan di sana sini)


Semoga tulisan ini dapat memotivasi pembaca untuk lebih menghargai dan menyayangi orang tua, khususnya "Ayah". Bersyukurlah dan jangan sia-siakan waktu-mu selagi mereka masih hidup dan ada di dekatmu. Janganlah pernah lupa untuk mendo'akan mereka di sela sholat-mu dan di sela-sela waktu luangmu. Semoga kita menjadi orang-orang yang mampu memberikan yang terbaik untuk kedua orang tuanya.

Karakter Ayah Ideal [Ayah Juara]


Satu lagi artikel inspiratif dari Kompasiana, saya yakin dapat menginspirasi setiap pria yang sudah mulai merencanakan atau mungkin sedang menjalankan proses hidupnya sebagai seorang ayah dan  sekaligus kepala keluarga yang tentunya membaca dan meresapi artikel ini.

"Keluarga juara" lahir dari dukungan "ayah juara" yang senantiasa didukung oleh ibu dan putra-putri yang saling sayang dan mendukung satu dengan lainnya

Menjadi suami belum tentu menjadikan seorang pria menjadi ayah, dan menjadi seorang ayah belum tentu menjadikan seorang pria menjadi panutan yang dapat menjadikan keluarganya menjadi sakinah, mawaddah, warahmah serta kelak meraih surga. Karena itulah tiap pria perlu dan harus senantiasa belajar dan mengintrospeksi diri demi memberikan yang terbaik untuk keluarga yang dipimpinnya, mari kita bekerja keras menjadi pria-pria yang mampu mewujudkannya dan menjadi "ayah juara" untuk keluarga dan dunia di sekitar kita.

Quoted article :

Sudahkan Anda Menjadi Ayah?
Jika anda seorang lelaki, kemudian menikah dan memiliki anak, sejak saat itu anda adalah seorang ayah. Anda akan disebut Bapak, Ayah, Daddy, Papa, Papi, Abi, Abah atau sebutan  lain semacam itu oleh anak anda. Status anda secara resmi dan formal adalah seorang suami dan sekaligus seorang ayah. Namun pertanyaannya adalah, apakah anda sudah “menjadi” ayah?

“Menjadi” adalah sebuah proses, namun juga hasil. Proses menjadi ayah, dan hasil akhirnya : anda menjadi ayah. Saat berbicara proses, untuk menjadi ayah tentu saja memerlukan  sejumlah langkah dan usaha nyata. Langkah yang dimaksud bukan hanya menikah dan memiliki anak, namun lebih penting lagi adalah proses untuk memenuhi karakteristik sebagai ayah.  Banyak kalangan masyarakat kurang memiliki kesadaran untuk berusaha memiliki karakter sebagai ayah. Mereka menjadi ayah semata-mata karena proses biologis, bahwa kenyataannya  mereka telah memiliki anak.

Menjadi ayah semestinya diawali dengan menyiapkan diri untuk memiliki karakter seorang ayah ideal, atau dalam istilah lain adalah “ayah juara”. Paling tidak ada tujuh karakteristik yang diperlukan untuk menjadi ayah ideal, yaitu kepemimpinan, keteladanan, kehangatan, optimisme, kecerdasan, kekuatan dan kelembutan.

Tuesday, 7 July 2009

Renungan Tentang IBU . . . . . . .



Pernahkah kita mencoba mengingat akan masa lalu………..????
Sembilan bulan kita hidup dalam kandungan sang bunda……
Bunda selalu membawa kita kemanapun ia pergi………
Tak pernah ia berfikir untuk menanggalkan kita walau sejenak………
Lalu kita pun lahir dengan tangis pertama kita menyapa dunia ini……
Bunda pun selalu ikhlas merawat kita dengan penuh kasih sayang……
Kadang kita telah begitu saja mengambil waktu istirahatnya dengan tangis kita di malam hari……mengganti popok kita yang basah, memberikan kita air susu ketika kita lapar………….
Dan kita hanya bisa menangis saja ketika itu………
Kita selalu diayun, dipangku dan ditimang-timang
Lalu apa balasan kita waktu itu………..????
Kita sering membuat basah baju bunda dengan air kencing kita……
Dan Bunda tak pernah sekalipun memarahi kita……